SUMBER DAYA MANDIRI

contact info
+62 21 2276 0141

contact@sumberdayamandiri.com

Jl. Pangkalan Jati I/27,

Pangkalan Jati Lama

Cinere, Kota Depok

Indonesia

Quiet Quitting Sudah Lewat, Kini Saatnya Menghadapi “Bare Minimum Performance”

Apa itu Bare Minimum Performance?

Tantangan organisasi saat ini tidak lagi sebatas turnover atau kesulitan mencari talenta, tetapi bagaimana menjaga keterikatan (engagement) karyawan di tengah perubahan cara kerja yang semakin dinamis. Setelah tren quiet quitting ramai dibahas beberapa tahun terakhir, kini banyak perusahaan menghadapi fenomena yang disebut bare minimum performance, yaitu kondisi ketika karyawan tetap hadir dan menyelesaikan pekerjaannya, tetapi hanya pada tingkat minimum yang dipersyaratkan tanpa menunjukkan inisiatif atau keterlibatan lebih. Fenomena ini menjadi perhatian karena secara tidak langsung dapat menghambat inovasi dan kecepatan organisasi dalam mencapai target bisnis.

Menurut penelitian Gallup dalam State of the Global Workplace Report 2024, hanya sekitar 23% karyawan di dunia yang tergolong engaged terhadap pekerjaannya. Rendahnya tingkat keterikatan ini berdampak pada produktivitas, kualitas kerja, hingga retensi karyawan. Dari sudut pandang HR, kondisi ini menunjukkan bahwa kompensasi yang kompetitif saja tidak lagi cukup. Karyawan saat ini juga mencari makna dalam pekerjaan, kesempatan berkembang, serta hubungan yang sehat dengan atasan dan timnya.

Konsep ini sejalan dengan teori Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan (2000), yang menjelaskan bahwa motivasi intrinsik seseorang dipengaruhi oleh tiga kebutuhan psikologis utama: autonomy (otonomi), competence (kompetensi), dan relatedness (keterhubungan). Ketika ketiga aspek tersebut terpenuhi, individu cenderung memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk berkontribusi secara optimal. Oleh karena itu, peran HR saat ini tidak hanya mengelola administrasi ketenagakerjaan, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan merasa dihargai, berkembang, dan memiliki kontribusi nyata terhadap tujuan organisasi.

Pada akhirnya, perusahaan yang mampu memenangkan persaingan talenta bukanlah perusahaan yang sekadar menawarkan gaji tertinggi, melainkan yang mampu membangun pengalaman kerja yang bermakna. Di era ketika keterampilan dapat dipelajari dan teknologi dapat dibeli, keterlibatan manusia tetap menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditiru. Karena itu, investasi terbesar organisasi ke depan bukan hanya pada sistem atau teknologi, melainkan pada bagaimana menciptakan tenaga kerja yang terhubung secara emosional dengan pekerjaannya.

Referensi:

  • Gallup. (2024). State of the Global Workplace Report 2024.
  • Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-Being. American Psychologist, 55(1), 68–78.
  • Saks, A. M. (2006). Antecedents and Consequences of Employee Engagement. Journal of Managerial Psychology, 21(7), 600–619.