Mengenal istilah quiet quitting dan burnout
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting dan burnout semakin sering dibahas dalam dunia kerja global. Fenomena ini menggambarkan kondisi di mana karyawan tetap bekerja, tetapi hanya sebatas memenuhi kewajiban minimum tanpa keterlibatan emosional atau inisiatif tambahan. Menurut Harvard Business Review, kondisi ini bukan semata-mata disebabkan oleh rendahnya motivasi individu, melainkan oleh sistem kerja yang tidak jelas, ekspektasi peran yang kabur, serta beban kerja yang tidak terkelola dengan baik.
Bagi perusahaan, dampak quiet quitting dan burnout tidak bisa dianggap sepele. Produktivitas tim menurun, kualitas layanan menjadi tidak konsisten, dan konflik kerja meningkat. Laporan Gallup menunjukkan bahwa rendahnya employee engagement berkorelasi langsung dengan penurunan kinerja bisnis dan meningkatnya biaya operasional tersembunyi, termasuk tingginya turnover dan rendahnya kualitas kolaborasi antar tim.
Dalam banyak kasus, perusahaan mencoba mengatasi masalah ini dengan pendekatan motivasional semata, seperti training singkat atau insentif jangka pendek. Namun, pendekatan tersebut sering kali tidak efektif karena akar permasalahan terletak pada sistem pengelolaan SDM yang belum terstruktur dengan baik. Tanpa standar kerja yang jelas, mekanisme evaluasi yang objektif, serta pembagian peran yang tepat, karyawan cenderung mengalami kelelahan peran (role overload) dan kehilangan rasa kepemilikan terhadap pekerjaannya.
Di sinilah peran jasa outsourcing menjadi semakin relevan dalam konteks bisnis modern. Outsourcing yang dikelola secara profesional membantu perusahaan membangun sistem kerja yang lebih rapi, mulai dari proses rekrutmen, pengelolaan kinerja, hingga pengaturan beban kerja yang proporsional. Dengan dukungan sistem yang tepat, perusahaan dapat mengurangi risiko burnout, meningkatkan kejelasan peran, dan memastikan bahwa setiap fungsi dijalankan oleh sumber daya yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Pada akhirnya, tantangan dunia kerja saat ini bukan hanya soal mencari karyawan yang kompeten, tetapi menciptakan sistem kerja yang berkelanjutan. Perusahaan yang mampu menata ulang pengelolaan SDM secara strategis—termasuk melalui kemitraan outsourcing—akan lebih siap menghadapi dinamika bisnis, menjaga produktivitas tim, dan mempertahankan daya saing dalam jangka panjang.
Referensi
-
Harvard Business Review. Quiet Quitting Is About Bad Bosses, Not Bad Employees.
https://hbr.org -
Gallup. State of the Global Workplace Report.
https://www.gallup.com -
World Health Organization. Burn-out an “occupational phenomenon”.
https://www.who.int -
McKinsey & Company. The Future of Work After COVID-19.
https://www.mckinsey.com

